Menghadapi Persoalan Pembayaran Royalti atas Hak Cipta

Anda pernah membayar royalti kepada pihak yang salah? Atau mungkin pernah mengetahui royalti yang menjadi hak anda diterima oleh orang lain yang mengklaim memiliki hak atas royalti tersebut? Bagaimana upaya hukumnya?

Sering diberitakan mengenai dugaan pelanggaran hak cipta, mulai dari kalangan pencipta lagu, penulis, fotografer dan lain-lain. Hal ini menunjukkan kepekaan dan kesadaran hukum berbagai kalangan mengenai hak cipta sudah mulai baik – terlepas dari tingginya angka pembajakan. Baru-baru ini Daniel Sahuleka yang sedang berusaha menuntut pembayaran royaltinya dari recording company.

Sebagaimana telah digariskan dalam Undang – Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), setiap orang atau badan hukum yang melakukan pengumuman atau eksploitasi terhadap suatu karya cipta wajib meminta izin dan/atau membayar royalti  kepada pencipta atau pemegang hak cipta suatu karya cipta.

Masih segar dalam ingatan kita tentang kasus Inul Vista vs Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI). Ada juga kasus Ring Back Tone antara YKCI dengan operator seluler. Persoalannya bermuara pada hal yang sama, klaim terhadap tidak adanya izin dari pencipta atau pembayaran royalti kepada pencipta.

Jika upaya damai tidak tercapai, besar kemungkinan pihak yang merasa dirugikan akan melanjutkan permasalahan tersebut ke meja hijau, dengan mendaftarkan gugatan pelanggaran hak cipta pada pengadilan niaga.

Namun, bagaimana upaya hukum yang dapat anda lakukan, jika anda pernah membayar royalti kepada pihak yang ternyata tidak berhak menerima pembayaran royalti tersebut?

Sengketa Pencipta vs Pemegang Hak Cipta

Perkara yang kadang terjadi dikarenakan adanya ketidakpahaman atau memang adanya sengketa terkait kepemilikan suatu karya cipta. Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal, antara lain:

  1. Pencipta sudah mengalihkan hak nya kepada pihak lain, sehingga kepemilikan hak cipta tersebut beralih. Dengan kata lain, hak ekonomi nya pun beralih (Pasal 3 UU Hak Cipta). Namun sang pencipta tetap merasa memiliki hak atas royalti.
  2. Pemberian izin penggunaan karya cipta hanya diberikan atas sebagian hal saja dan penggunaan hak cipta di luar izin yang telah diperoleh.
  3. Adanya pelanggaran hak moral atas pengumuman suatu karya cipta. Bisa jadi karena tidak dicantumkannya nama pencipta atas karya cipta tersebut atau dilakukan perubahan terhadap suatu karya cipta tanpa seizin pencipta nya.

Yang perlu dipahami, ketika kepemilikan atas suatu karya cipta dialihkan, baik melalui jual, beli, hibah atau waris, namun peralihan tersebut hanya sebatas hak ekonomi saja. Sedangkan hak moral terhadap karya cipta tersebut tetap melekat pada si pencipta. UU Hak Cipta sendiri memberikan definisi yang berbeda terhadap pencipta dan pemegang hak cipta (Pasal 1 UU Hak Cipta).

Sebagai contoh, karya cipta berupa musik kini dapat dialihkan dalam berbagai bentuk (content), untuk digunakan dalam berbagai media. Di luar konteks penggunaan lagu sebagai content Ring Back Tone, biasanya ada juga perjanjian antara pencipta lagu dengan recording company untuk perekaman lagu yang kemudian dipasarkan dalam bentuk CD. Namun tidak menutup kemungkinan dibuat perjanjian untuk lebih luas lagi.

Dalam era konvergensi ini (kayak Vicky aja, hehe), tidak menutup kemungkinan penyedia content bukan lagi recording company, tapi bisa jadi perusahaan content provider atau pencipta lagu itu sendiri yang kemudian bekerjasama dengan operator seluler dalam bisnis Ring Back Tone.

Content provider atau operator seluler kemudian mendapatkan izin dari recording company atau dari pencipta langsung untuk kemudian memperbanyak atau mengumumkan (red. menggunakan/memasarkan) content tersebut kepada publik.

Kasus yang pernah terjadi, bisa jadi ada pihak yang kemudian menuntut pembayaran royalti kepada content provider atau operator seluler. Lalu bagaimana jika ingin menuntut kembali pembayaran royalti yang pernah dilakukan terhadap pihak yang ternyata tidak berhak atas royalti tersebut? Mengingat, di sisi lain, ada juga pihak yang merasa memiliki hak atas pembayaran royalti tersebut, dan ingin menuntut haknya.

Jika hal tersebut yang anda hadapi, maka anda perlu untuk melakukan klarifikasi atas dasar perolehan hak dari pihak yang mengaku sebagai pemegang hak cipta tersebut.

Jika terjadi claim atau tuntutan seperti itu, maka ada 3 hal kemungkinan yang dapat terjadi:

  1. Jika terdapat sengketa kepemilikan hak cipta, minta kepada para pihak yang berselisih untuk mendapatkan kepastian hukum tentang siapa pemegang hak cipta atas karya cipta tersebut;
  2. Meminta kepastian jaminan dari penerima royalti untuk menyelesaikan claim dari pihak yang menuntut hak; atau
  3. Menuntut pembayaran tidak terutang berdasarkan KUHPerdata kepada penerima royalti yang ternyata bukanlah pemegang hak cipta.

Setiap pilihan di atas memiliki konsekwensi dan tindakan penyelesaian yang berbeda. Hal ini tentunya juga berkaitan dengan waktu dan biaya. Oleh karena itu, agar tidak salah arah, sebaiknya anda berkonsultasi dengan konsultan hukum yang berkompeten untuk menentukan upaya penyelesaian yang terbaik.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda. Mengenai penyelesaian sengketa kepemilikan hak cipta akan saya ulas dalam artikel terpisah.

Salam,

Bimo Prasetio

Anda dapat menghubungi kami melalui  :

E: ask@bplawyers.co.id

H: +62821 1000 4741

bplawyers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*